
"Pak, kalo nelpon berhenti dulu" teriak saya karena di tengah jalan raya berbicara pelan sama saja berbisik-bisik.
"Apa??"
"Kalo telepon berhenti dulu, bahaya!!" teriak saya lagi
"Terserah gue dong!" sambil memperkencang motornya dgn tetap tangan memegang telepon ditelinga kirinya.
Tidak cukup rasanya setiap hari kita dipertontokan kebodohan pengendara mobil dan (terutama) motordalam menggoda malaikat maut menjentikkan jarinya di atas jalan raya Jakarta. Pagi ini, kembali menegur keras seorang pengendara motor di depan saya di atas jalur busway yg belum terpakai yang dengan tiba-tiba bertelepon ria dan membuat kita yang dibelakangnya menjadi kagok. Herannya setelah diberi teguran malah tidak terima. Ealaaah...mas...mas, kalo ada apa-apa kemungkinan besar orang lain juga yang kena getahnya, bukan sampeyan sendiri saja.
Gaya berkendara terutama motor di Jakarta memang sudah sangat terkenal akan kebodohannya. Saya tidak bilang kenekatan karena nekat ada dua jenis. Pertama, nekat dengan dewasa dan penuh pertimbangan. Kedua, nekat dengan sontoloyo, dan kombinasi nekat dengan sontoloyo adalah kebodohan besarr (dengan dua "r").
Menerjang lampu merah walau dari lawan arah kendaraan yg berhak terlihat masih melaju kencang. Zig-zag bak pembalap Motor GP tidak perduli sela-nya hanya satu meter kurang, kadang ditambah dengan tidak memakai helm. Melawan arah dan memutar sembarangan atas nama mempersingkat waktu perjalanan. Dan yang paling mutakhir akhir-akhir ini adalah, sambil melaju bertelepon ria tanpa menggunakan handsfree. Plus, pada mobil-mobil menengah ke atas saat ini kerap kali dilengkap dengan televisi yang menyala (Dalam tulisan ini kita anggap saja dulu bahwa pemilik mobil itu dilengkapi supir pribadi, dan televisi tesebut ditonton oleh bossnya).
Kebodohan di atas menjadi lengkap dengan sikap orang-orang Jakarta (jabotabek) yang kerap kali gampang naek darah. Walau masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut, namun nyatanya memang Orang Jakarta menanggapi masukan dengan protektif diri yang keterlaluan dan menganggap teguran itu sebagai hal yang melukai harga dirinya. Ditambah lagi bila ternyata yang memberi masukan adalah orang yang tidak dikenal. Tidak jarang yang awalnya bertujuan baik ujung-ujungnya malah berakhir dengan adu jotos, yah minimal adu mulut.
Menelepon (tanpa handsfree) sambil berkendara di luar negeri memang pelanggaran lalulintas. Karena konsentrasi si pengemudi menjadi terbagi-bagi. Padahal dibutuhkan refleks yang sangat cepat bila terjadi sesuatu di atas jalan, hanya butuh sepersekian detik untuk menyelematkan nyawa. Sebelum selesai berkata "saya cinta kam..." mungkin nyawa seseorang telah melayang akibat kelalaian si pengemudi. Kabarnya di Jakartapun akan diberlakukan peraturan yang sama, namun kita lihat saja nanti bagaimana aplikasinya (halo, apa kabar PerDa dilarang merokok dalam ruang publik?)
Apa salahnya berhenti sebentar untuk menjawab telepon, itu bila pengendara tidak memiliki handsfree. Seberapa pentingnyakah telepon tersebut hingga harus di jawab saat itu juga? toh bila tidak diangkat, hampir semua teknologi handphone akan mencatat panggilan gagal (miss call, bahasa inggrisnya) yang bisa dilihat kemudian ketika memungkinkan dan lebih aman.
Pengendara sekarang memang berbeda dengan keadaan 5-10 tahun lalu. Saat ini, cukup bisa narik gas, injek rem dan ganti kopling maka bisa melaju di jalan raya, bahkan bila buta huruf sekalipun. Nyatanya dibutuhkan lebih dari itu untuk bisa mengendarai baik roda dua atau lebih. Butuh pengetahuan yang saat ini sering disebut sebagai safety riding atau Indonesianya keselamatan berkendara. Tidak harus dari polisi atau samsat, namun ilmu tentang keselamatan berkendara bisa di peroleh dari mana saja termasuk internet yang saat ini bisa diakses dari mana saja.
Bagaimana untuk pengemudi angkutan umum yang hampir sebagian besar buta internet? Entahalah, saya juga bingung, saya fikir setalah informasi penerangan dari samsat dan kepolisian maka akhirnya pengalaman yang menjadi guru keselamatan berkendara mereka, namun nyatanya semakin lama di atas jalan semakin menjadi saja.
Mudah-mudahan saja keadaan sehari-hari di atas tidak semakin merebak. Sudah saatnya untuk berubah, sebelum semua terlambat dan menjadi bagian dari budaya tingkah laku pengendara jalan-raya. Atau, jangan-jangan memang sudah?... anda saja yang menjawabnya.
Baca JugaSafety riding oleh saft7Gambar dari pro.corbis