Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Dr. Geoffrey Roper*
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
diterjemahkan bebas oleh saya. Bila menemukan ungkapan/frase/kalimat yang membingungkan silahkan berkunjung dimana artikel aslinya dimuat pada http://www.muslimheritage.com. Semua kopirait ada pada penulisnya yakni Dr. Geoffrey Roper. Selamat membaca dan semoga bermanfaat. (Iman)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. Sejarah kreatifitas Irak sebagaimana yang terungkap dari produksi manuskrip

Bahkan pada masa-masa awal Islam, Irak telah dianggap sebagai kiblatnya produksi teks-teks tulisan. Kota Kufa, yang didirikan sebagai ibukota administrasi Irak pada 17 H/838 M pada dua abad pertama menjadi pusatnya perkembangan ilmiah dalam penulisan dan memerankan bagian yang krusial dalam perkembangan penulisan tulisan Arab. Menjadi sebuah gaya yang monumental dalam penulisan dan dikenal luas dengan gaya penulisan "kufic", bahkan menjadi karakter dalam manuskrip awal Al-Qur'an dan ukiran (tulisan Arab) pada bangunan-bangunan (1).

Figure 1: Iraqi manuscript of the Quran, from Baghdad, written by Ahmad Ibn al-Suhrawardi al-Bakri in 706 H. Page Size 35x47 cm. (Source).

Selain Kota Kufa, Basra juga memainkan peran penting pada periode awal ini. Basra menyaksikan untuk pertama kalinya perkembang literatur prosa Bahasa Arab selain menjadi tempat lahirnya gramaar penulisan Bahasa Arab, Basra juga menjadi pusatnya puisi pada zaman kekhalifahan Umayyad dan awal Abbasid. Sejumlah perpustakaan penting berkembang di sana, yang paling terkenal adalah perpustakaan yang dibangun oleh Ibnu Sawwar untuk melengkapi Darul Ilmu-nya (House of Learning / Rumah Belajar) pada abad ke-4 Hijriah / abad ke-10 Masehi. Apa yang dibangun oleh Ibnu Sawwar adalah salah satu perpustakaan pertama yang dibangun dengan cara wakaf (2).

Namun, tentu saja Baghdad-lah yang benar-benar menjadikan literatur dan budaya keilmuwan Muslim dan Arab demikian penting seantera dunia selama beberapa abad terutama setelah dijadikan ibukota dari kekhalifahan Abbasid pada abad ke-2 Hijriah / abad ke-8 Masehi. Saat itu terbitan manuskrip sangat banyak dalam berbagai subjek dari sosial sampai sains. Pemiliki toko buku sekaligus bibliografer abad ke-10, Ibnu Nadim mendaftar sekitar 4300 penulis buku yang karyanya terdapat di dalam toko milik Ibnu Nadim. Karya dalam filosofi dan ilmu-ilmu alam beberapanya diterjemahkan dari Yunani kuno beberapa lainnya merupakan asli karya ilmuwan muslim, yang pada waktunya akan memiliki arti sangat penting atas kebangkitan ilmu pengetahuan dan pemikiran sekuler di Eropa, sebagaimana juga pada Dunia Muslim. Karya lainnya adalah sebuah seni yang sangat sempurna-terutama manuskrip Al-Qur'an buah tangan maestro seperti Ibnu al-Bawwab. Namun ada kalanya karya yang sifatnya personal terdapat juga dalam toko buku Ibnu Nadim semisal manuskrip diari dari sejarawan abad ke-11 Ibnu al-Banna al-Hanbali, yang mana sisa-sisanya ditemukan di Damaskus (3).

Buku-buku manuskrip tidak hanya diproduksi dan dibaca, namun juga dikumpulkan dan disimpan pada perpustakaan-perpustakaan di mana seluruh komunitas orang-orang berilmu (ilmuwan) dapat mempelajalinya. Sejarawan Yussuf Eche mengidentifikasi paling tidak 83 perpustakaan di Baghdad saja, yang disebut-sebut dan dijelaskan dalam sumber-sumber kontemporer (4). Dari Bayt- al-Hikma (Rumah Kebijaksanaan), yang berkembang saat kejayaan Kekhalifahan Abbasiyah, sampai perpustakaan madrasah kekhalifahan Saljuk, yang paling terkenal adalah Nizamiya dan Mustansiriya. Termasuk juga banyak perpustakaan pribadi, namun sering kali walaupun milik pribadi dapat dimanfaatkan oleh umum.

2. Tragedi Invasi Mongol dan Kerugian-Kerugiannya

Baghdad pada zaman keemasan-nya di bawah Orang-Orang Muslim adalah gudang penyimpanan ilmu pengetahuan yang sangat besar dalam bentuk tulisan. Bila ada perayaan atas kenangan pembangunan-nya, maka sepertinya demikian juga dengan penghancurannya yang tidak kalah dramatis. Baru saja 405 Hijriah / 1059 Masehi penaklukan Baghdad oleh Saljuk membakar isi Darul Ilm (Rumah Ilmu) Sabur Ibnu Ardashir yang terkenal, menghancurkan atau memusnahkan semua koleksi yang diperkirakan mencapai 10,1000 volume (6).

Lantas pada 1258 Masehi kejadian yang dicatat sejarah sebagai sebuah legenda bencana terbesar yang pernah terjadi pada kejatuhan peradaban muslim dan kebudayaan literatur dunia. Bangsa Mongol di bawah kepimpinan Hulegu Khan menguasai Baghdad, membunuh Khalifah dan banyak penduduk lainnya, dan membakar sebagian besar Baghdad. Perpustakaan-perpustakaan dijarah dan, menurut Ibnu Khaldun, kebanyakan dari isinya dibuang ke Sungai Tigris (7). Legenda mengatakan bahwa aliran Sungai Tigris berubah menjadi hitam karena tinta yang luntur selama berhari-hari. Al-Qalqashandī membenarkan bahwa semua buku milik perpustakaan Khalifah musnah ditangan Bangsa Mongol dan semua jejak termasuk pengetahuan yang berada di dalamnya....hilang tak berbekas (8). Bangsa Mongol melakukan hal yang sama pada kota-kota lainnya di Irak, seperti Mosul.

Tetapi nyatanya totalitas kehancuran perpustakaan-perpustakaan di Baghdad, entah bagaimana, sedikit dibesar-besarkan. Pertama-tama, banyak manuskrip yang ditulis sebelum penaklukan Bangsa Mongol masih dapat ditemukan sampai saat ini. Di Baghdad, walaupun koleksi Perpustakaan Kekhalifahan punah, perpustakaan penting lainnya seperti Nizamiya dan Mustansiriya tidak termasuk yang dihancurkan dan terus digunakan sampai waktu yang cukup lama sesudahnya.

Apa yang sepertinya sebenarnya terjadi adalah bencana pada 1258 tersebut telah menjadi semacam ikon atas penghancuran dan tenggelamnya budaya dan sumber daya dunia literatur Muslim, yang mana sebenarnya proses kehancurannya berjalan dengan periode yang lebih lama.. Di bawah ini adalah daftar beberapa perpustakaan yang dihancurkan sebelum jatuhnya Baghdad ke tangan Bangsa Mongol



Perpustakaan

Jenis Penghancuran

Tanggal (Masehi)

Kórdoba, Perpustakaan Al-Hakam

Dibakar sebagian sisanya dikubur, djual dan diambil paksa

Ca.980 abad ke-11

Perpustakaan Rayy

Dibakar sebagian

1027

Baghdad – Dārul ‘Ilmu Sābūr

Dibakar dan diambil paksa

1059

Kairo – Dārul-‘Ilmu Fattimiya

Sebagian dihancurkan sampai terpisah-pisah. Sampul buku digunakan menjadi sepatu dan sisanya di lelang.

1068-1171

Tripoli (Lebanon) – Banū ‘Ammār

Dibakar Pasukan Salib

1109

Nishapur

Dibakar

1153

Ghazna

Dibakar

1155

Marw (Merv)

Dicuri/dijarah/dirampok

1209

Table: Beberapa perpustakaan yang dihancurkan atau dirusak (10).


Setelah 1258, Baghdad dan kota-kota di Irak menjadi lebih mirip kotamadya daripada pusat metropolitan, termasuk juga produksi bukunya yang menurun. Namun, manusktrip tetap ditulis, dan perpustakaan tetap eksis. Setelah pimpinann tentara Mongol kembali memeluk Agama Islam, mereka sendiri akhirnya menjadi kecanduan pada belajar dan menulis. Pada abad ke-14, Mosul misalnya, manuskrip berkualitas tinggi diproduksi, begitu juga dengan Al-Qur'an yang mana atas perintah sultan-sultan keturunan Mongol sendiri. Tetapi sayangnya daratan Irak tidak bisa mencapai apa yang sebelumnya pernah capai. Sejalan dengan terpecahnya kekuatan Bangsa Mongol, kerajaan-kerajaan kecil bertambah kekuatannya dan lepas dari kontrol Mongol, seperti Kara Koyunlu atau Dinasti Domba Hitam. Masa kekuasaan mereka (Mongol) pada Baghdad dan kota-kota lainnya di Irak nyata-nyata semakin mengendur, namun mereka tetap masih membantu para pengukir dan pelukis seperti halnya pembuat kumpulan manuskrip bergambar persia di pertengahan abad ke 15 (11). Seperti itulah yang akhirnya menjadi takdir pada kebanyakan manuskrip Irak sampai pada abad-abad ke depan. Kebanyakan dari manuskrip tersebut saat ini berada di Istanbul yang diambil bersama kebanyakan manuskrip Irak lainnya setalah Kekhalifahan Ustamaniyah menundukkan Irak pada 1534. Tetapi ada satu manuskrip yang saat ini berada di British Library, London. The Ottoman period was generally one of decline and neglect of the public and private libraries, which rendered them vulnerable to those, both Turkish and European, who wished to remove their contents in order to enhance their own collections elsewhere.

Ini adalah kenyataan yang ironi bahkan untuk karya yang di produksi di Baghdad oleh Kekhalifahan Utsmaniyah sendiri. Saat ini berkembang di mana-mana sekolah melukis lukisan miniatur (miniatur painting adalah biasa pada buku-buku zaman dulu di mana batas-batas tiap halamannya dihiasi denga lukisan-lukisan dan ornamen-ornamen yang indah, biasanya bila anda membuka Al-Qur'an cetakan Timur Tengah pada dua halaman pertama Al-Fatihah dan halaman pertama Al-Baqarah pada pinggirnya anda akan menemukan jenis yang mirip dengan "miniature painting" ); namun sebagaimana yang didaftar oleh Rachel Milsten atas penelitiannya terhadap subjek ini menemukan koleksi-koleksi milik sekolah melukis lukisan miniatur saat ini berada di Jerman, Swedia, USA, Israel, Prancis, Inggris, Irlandia dan Kuwait, dan tentu saja juga di Turki (12).

Kumpulan karya sejarah Baghdad dalam Bahasa Arab dan Turki yang ditulis pada abad ke-17, 18 dan 19 saat ini terpencar-pencar keberadaannya ada yang di London, Berlin, New York, Kazan, Istanbul, Kairo, Mekkah dan Madina, walaupun beberapa eskemplar masih (pernah) berada di Irak (13). Yang menarik salah satunya, berjudul Gulsan-i hulafa' (Gulshan-i Khulafā') karya Murtaza Nazmi-zade, dibawa ke Istanbul guna dicetak pada percetakan Muslim pertama, İbrahim Müteferrika, yang mana diterbitkan pada 1730 (14). Hal ini menunjukkan tanda-tanda pertama kesadarah bahwa untuk membuat tulisan dapat diakses adalah dengan cara melestarikannya, yaitu tentu saja dengan mencetak dan menerbitkannya dengan jumlah ratusan atau bahkan ribuan eksemplar. Masih banyak tulisan yang sangat penting dalam Bahasa bangsa Muslim menunggu hal tersebut untuk menjadi kenyataan.


3. Penyebaran dan Pengumpulan Koleksi-Koleksi Irak pada Abad ke-9 dan ke-20

Pada abad ke-19, orang-orang Eropa mulai tertarik pada Irak, atau Mesopotamia begitu Orang Eropa saat itu menyebutnya, banyak barang-barang antik dari Irak dikirimkan ke Eropa guna koleksi pribadi maupun umum. Dalam barang-barang yang dikirimkan termasuk juga manuskrip-manuskrip. Salah seorang yang sangat ahli dalam bidang ini adalah Claudius James Rish, seorang berkebangsaan Inggris yang ditunjuk menjadi perwakilan Inggris di Baghdad pada 1808 dan selama tugasnya sangat sering melakukan perjalanan ke segala penjuru Irak sampai akhirnya ditarik kembali pada 1821. Saat di Baghdad dia berhasil mendapatkan hampir 1000 volume manuskrip dalam Bahasa Arab, Persia, Turki dan Syria. Semuanya dikirim ke Inggris dan setelah kematiannya diambil alih oleh Museum British untuk perpustakaanya, yang sekarang dikenal dengan Perpustakaan British. Jumlah ini tidak begitu banyak dibandingkan sekitar puluhan ribu manuskrip yang berada di Irak. Namun perli diingat bahwa sebagai kolektor, Claudius James Rich, sangat selektif dalam memiliki manuskrip yang dia beli, hingga hanya dengan penulis dan/atau nilai sejarah besar saya terpilih. Jadi, warisan Irak dalam bentuk tulisan benar-benar koleksi selektif, dengan banyak item-item pilihan memperkaya perpustakaan di Eropa. Ironisnya pada 2003 pemerintahan Inggris melarang untuk pengiriman dari Inggris ke luar negeri atas diari dan surat-surat Claudius James Rich, hingga hanya bisa dimiliki oleh Perpustakaan British. Apabila pelarangan serupa dilakukan oleh Kekhalifahan Utsmaniyah dulu, maka Claudius James Rich saat itu tidak akan dapat mengirimkan koleksi-koleksi pilihannya dari Baghdad.

Pantas tidaknya proses ini telah banyak didebatkan. Di satu sisi Irak dan negara-negara Arab serta negara Muslim kehilangan bagian penting dari sumber sejarah tertulis mereka, yang dipindahkan jauh dari jangkauan pembaca dan ilmuwan lokalnya. Ini dapat saja terjadi bila memiliki efek terbalik pada perkembangan kebudayaan nasional dan kesadaran pada sejarahnya, yang mana pada saat itu mengalami ketidakseimbangan sejarah yang lahir dari ketidakseimbangan ekonomi dan kekuatan sosial. (red :dengan arti kata lain saat itu keadaan negara-negara Islam sedang kacau dan membahayakan sumber literaturnya, paling tidak itu dilihat dari sisi Orang Eropa). Pada sisi yang lain, manuskrip-manuskrip tersebut ditempatkan pada lokasi yang lebih aman, dan dilestarian serta disimpan jauh dari kehancuran lebih lanjut dan kerusakan di negeri asalnya. Juga secara sistematis dapat diakses oleh peneliti dan pelajar dari seluruh dunia, yang tentu saja akan kesulitan bila harus mengaksesnya di perpustakaan-perpustakaan di Irak.

Kemudian pada abad ke-20 praktek ini berkembang kepada kolektor-kolektor kaya untuk membeli lembaran-lembaran manuskrip yang kadang tidak lengkap lagi, terutama bila lembaran dari lukisa atau kaligrafi yang sangat terkenal, beberapa koleksi ini dimiliki oleh perorangan lainnya, syukurnya, dapat menjadi bagian koleksi publik. Contohnya, baru-baru ini sebuah Al-Quran dengan hiasan yang sangat indah buatan Baghdad pada akhir periode Kekhalifahan Abbasiyah yang, hanya Allah saja yang tahu, bisa selamat dari tangan-tangan Orang Mongol, baru-baru ini ditawarkan pada sebuah pelelangan di London. Lainnya dari manuskrip yang sama bagian-bagiannya terpisah di berbagai perpustakaan dan koleksi pribadi pada pelbagai lokasi di muka bumi. Jadi, walaupun bisa bertahan paling tidak isebagiannya, keutuhannya sebagai buku atau karya seni telah hilang.

Terdapatnya Bahasa Syriac (Bahasa Aramaik kuni yang digunaakan di Syria pada abad ke-3 sampai dengan ke-13 yang masih bertahan sampai sekarang terutama pada beberapa bagian Timur gereja-gereja Kristen) pada beberapa manuskrip yang berhasil dikumpulkan menunjukkan pada kita bahwa warisan literatur Irak tidak hanya mengenai atau ditulis oleh Muslim. Orang-orang Kresten waktu itu di Irak juga memproduksi banyak karya sejarah, sains termasuk juga reliji yang tidak juga dalam Bahasa Syria namun juga termasuk di dalam Bahasa Arab dan beberapa dalam Bahasa Armenia. Joseph Habi pada 1997 mengidentifikasi sekitar 28 koleksi biara-biara Irak serta perpustakaan gereja, termasuk juga 16 koleksi pribadi (15). Komunitas Yahudi di Irak (red : yang saat itu belum mencaplok sebagian Palestina dan menyebutnya dengan Israel) juga memproduksi banyak manuskrip dalam bahasa Hebrew dan judeo-arabic (Bahasa Arab gaya Yahudi). Beberapa koleksi terbaik milik Orang Kristen dan Yahudi di Irak saat ini berada bersama koleksi lainnya milik Eropa dan Amerika. Pada 1920an, seorang Kristen asli Irak, Alphonse Mingana mendapatkan banyak manuskrip berbahasa Syria dan Arab dari Irak dan beberapa negara sekitarnya atas dukungan seorang yang sangat penting dalam industri coklat sekaligus antusias pada dunia misionari....Edward Cadbury (16). Saat ini koleksi yang dikumpulkan Alphonse berada di Universitas Birmingham, Inggris.

Tetap, puluhan ribu manuskrip masih berada di Irak, dan setelah Irak menjadi negara merdeka pada abad ke-20, mereka mulai mengorganisasi koleksi publik dan perpustakaan-perpustakaan-nya. Pada 1923 museum nasional yang baru diresmikan di Baghdad dan memiliki bangunan yang permanen pada 1926. Museum ini kemudian menjadi semacam pusat penyimpanan koleksi manuskip Irak yang sangat besar, sampai akhirnya perpustakaan manuskrip nasional diresmikan pada 1988. Di 1928 Perpustakaan Umum Awqaf menyediakan sembilan departemen koleksi yang terpisah menyimpan koleksi dari era Kekhalifahan Utsmaniyah dan banyak lagi ditambahkan dalam beberapaa dekade kemudian (17). Perpustakaan umum dan universitas lainnya juga dibangun di Irak dimana manuskrip-manuskrip disimpan di dalamnya.

Sampai akhir abad ke-20 kebanyakan Bangsa Arab dan Bangsa Muslim telah mengorganisasi dan meyimpan dengan baik koleksi literatur mereka dengan cara yang serupa, dan masa depan manuskrip baik di Irak maupun tempat lainnya, sepertinya aman-aman saja. Rasa-rasanya tidak mungkin sampai terjadi kerusasakan atau kehilangan koleksi dalam jumlah besar dapat terjadi - Namun sesuatu terjadi dengan sangat tiba-tiba,...saat-saat yang suram.

    4. Penjarahan dan kerugian Manuskrip Islam di akhir Abad ke-20

Dekade terakhir abad ke-20 membawa kejutan yang tragis. Pada 1990 Irak menduduki Kuwait dan dan memindahkan koleksi berharga dari Perpustakaan Sabah yang baru saja dikumpulkan, diantaranya dipindahkan ke Baghdad. Dalam prosesnya beberapa hilang namun pada waktu tertentu setelahnya diperjual-belikan di London dan tempat lainnya. Kebanyakan, untungnya, ditemukan dan dikembalikan ke Kuwait pada akhir pendudukan Irak. Semantara itu, beberapa museum kotamadaya di Irak dijarah dan dicuri selama perang teluk pada 1991. Menurut laporan yang dikumpulkan Jepang pada 1966 atas bantuan pemerintahan Irak dan UNESCO, benda-benda yang ikut hilang antara lain 364 manuskrip berbahasa Arab yang dijarah dari Museum Kirkuk (18). Manuskrip yang berasal dari Dār Saddām, yang mana adalah pusat perpustakaan manuskrip di Baghdah, lantas dievakuasi dari Baghdad ke Kirkuk sebelum perang Teluk pada 1991 lantas dijarah dari Kirkuk, tetepi manuskrip-manuskrip itu kemudian dapat ditemukan kembali.

Selama tahun 1990an manuskrip-manuskrip Islam mengalami penderitaan yang sangat parah di lokasi lainnya. Di Bosnia pada 1992, pasukan Serbia dengan sengaja menargetkan senjatanya pada Institut Oriental Sarajevo dan dengan sukses membumi hanguskannya. Seluruh koleksi 5263 manuskrip Berbasa Arab, Persia, Turki, Bosnia dan Hebrew-nya ikut musnah bersama-sama dengan sejumlah besar dokumen dan surat-surat resmi Kekhalifahan Utsmaniyah (19). Walaupun beberapa percobaan telah dilakukan untuk menjaga kelestariannya dengan cara membuat microfilm-nya yang disimpan pada lokasi berbeda, kerugian yang dialami tetap tidak dapat diperbaiki. Disinyalir, pasukan Serbia termotivasi oleh kebencian para seketerian dan nasionalis terhadap muslim dan berusaha sebisa mungkin menghancurkan warisan literatur muslim Bosnia, sejarah dan warisan ilmiahnya, sebuah tindakan yang mungkin lebih pantas disebu dengan ....genosida kebudayaan. Syukurlah, koleksi utama lainnya pada Perpustakaan Gazi Husrev dapat diselamatkan karena telah dipindahkan ke tempat perlindungan. Yayasan Warisan Islam Al Furqon di London yang selanjutnya membantu bantuan berharga pada preservasi, kataloging dan dijitalisasi koleksi tersebut.

Serangan dan perusakan yang serupa terjadi pada beberapa perpustakaan muslim dan arsip di Mostar dan tempat lainnya di Bosnia-Herzegovina, menyebabkan kerugian yang sangat signifikan pada keutuhan manuskrip.

Pada 1999 terjada konflik di Kosovo, yang tadinya adalah bagian dari Yugoslavia. Saat itu perpustakaan manuskrip dan arsip-arsip bersejarahdari Islamic Community of Kosovo (KBI) juga menjadi target senjata pasukan Serbia, termasuk juga koleksi penting lainnya, bersama dengan masjid dan perpustakaan wakaf ikut dihancurkan dengan artileri berat. Ratusan manuskrip dalam Bahasa Arab, Turki dan Albania hancur. Dan apabila serangan artileri berat tidak berhasil menghancurkannya maka pekerjaan penghancuran tersebut dilanjutkan dengan tangan, halaman dirobek-robek dan dipisahkan dari jilidannya, dicabik-cabik dan dicampakkan (20).

Negeri muslim lainnya yang digoyang oleh konflik pada periode ini adalah Afganistan. Di sini juga, koleksi manuskrip mengamali beberapa kerugian. Rezim Taliban menggancurkan banyak manuskrip yang tidak lolos sensor, terutama pada literatur Persia dan tradisi artistik. Akademi dan Perpustakaan banyak dijarah pada periode yang penuh ketidak-pastian ini, banyak manuskrip berharga dijual ke luar negeri kepada para kolektor di Eropa dan Amerika. Perdagangan ilegal barang-barang antik termasuk manuskrip pada tingkat tertentu bahkan hampir menyamai perdagangan obat bius (21).

    5. Tragedi Manuskrip Irak pada 2003

Milenium baru membawa harapan baru akan membawa restorasi terhadap nilai peradaban dunia. Sayangnya sejak 2001 kekerasan baru tengah menemukan jalannya, yang mana telah dimanfestasikan terutama di Irak. Invasi illegal pada negara itu di 2003 telah membawa bencana baru terhadap warisan mansukrip. Sejauh mana bencana ini telah merusak masih belum bisa dipastikan, namun perkiraan dapat diambil dari laporan-laporan saksi mata yang tersedia serta penyelidikan yang masih berjalan (23).

Sinopsis Kejadian (2003)

  • Kamis 20 Maret : Pasukan Amerika dan Irak menginvasi Irak

  • Pada Sabtu 5 April, pasukan Amerika mencapai Baghdad

  • Pada Rabu 9 April, pasukan Amerika mengontrol semua area utama di kota Baghdad, dan mereka mendeklarasikan penaklukan Irak dengan mengorganisir peledakan patung Saddan Husain di alun-alun utama, dan diliput wartawan media televisi.

  • Pada empat hari ke depan, 9-12 april, terjadi dalam skala besar dan sistematik penjarahan Museum Irak, salah satu museum antik terbesar di dunia.

  • Pada 14 April. Perpustakaan Awqaf (Perpustakaan yang dibangun atas upaya wakaf), yang sudah disebut di atas, dikuras isinya dan dibakar.

  • Pada hari yang sama, Perpustakaan dan Arsip Nasional Irak dijarah dan dibakar. Kira-kira seminggu kemudian, dijarah diserang kembali dan mengalami kerusakan lebih banyak akibat api dan pencurian.

  • Sementara itu, perpustakaan riset di Bayt al-Hikma (Rumah Kebijaksanaan) dan Akademi Ilmu Sains Irak juga dijarah dan/atau dibakar, begitu juga dengan Universitas Mustansirīya, arsip-arsip miliki beberapa kementerian juga sama nasibnya

  • Pasukan pendudukan Amerika yang menguasai kota gagal untuk menggagalkan penjarahan dan perusakan. Mengabaikan kewajiban mereka yang di bawah hukum internasional untuk melindungi properti kebudayaan

  • Di luar Baghdad, Perpustakaan Universitas dan Umum di Kota Mosul di utara dan Basra di Selatan juga mengalami kurang lebih kerugian yang sama dengan Baghdad

  • Kondisi dari perpustakaan-perpustakaan dan arsip MSS di lokasi lainnya masih belum bisa dipastikan keadaanya, bahkan sampai saat ini (artikel ini dibuat).

Missi

Ketika berita tentang bencana ini terdengar oleh ilmuwan dan pustakawan di belahan dunia lainnya, mereka menganggap hal tersebut sebagai di luar batas, bercampur aduk dengan rasa bersalah. The Arab Regional Branch of the International Council of Archives mengeluarkan pernyataan resmi pada 16 April 2003 menyatakan "The catastrophe of the Iraqi civilization" (Bencana besar peradaban Irak) dan mengajak pemerintahan Amerika dan Inggris dan juga institusi akademik mereka untuk dengan tegas memaksa preservasi warisan Irak yang hebat itu sampai akhirnya dapat diterima kembali oleh para kaum intelektual dan terpelajar Irak yang terpercaya.

Di Barat, organisasi dan kelompok-kelompook bergegas mengirimkan misi pertolongan dan investigasi. Kebanyakan perhatian terfokus pada gawatnya kondisi Museum Irak dan situs-situs arkeologinya, pun begitu perpustakaan-perpustakaan dan arsip tidak begitu saja dilupakan walau pada kenyataanya lebih sedikit diliput oleh media massa. Pada 5 Mei UNESCO mengirimkan ahli sejarah tentang penghancuran buku sekaligus seorang pujangga berkebangsaan Venezuela, Fernando Baez ke Baghdad untuk menginvestigasi nasib perpustakaan dan arsip di sana, namun laporan Fernando, bukannya sebuah kajian mendalam, namun malah tidak ada bedanya dengan apa yang sudah dimuat pada media massa.

Pada 25 Mei ilmuwan Irak berkebangsaan Amerika Nabil al-Tikriti mengunjungi Baghdad, dengan sebagian atas bantuan North American Middle East Librarians Association dan the University of Chicago. Dia melaporkan dengan aktif informasi yang sangat berguna tentang keadaan koleksi MSS di Irak, walaupun beberapa point bertentangan dengan laporan lainnya kemudian; untuk institusi selain MSS dia menggunakan informasi yang tidak jelas faktanya atau gosip.

Satu bulan kemudian sebuah tim internasioan gabungan dari empat konsitutusi penelitian yang dinamakan "The Iraqi Observatory", observatori sosial sebagaimana konsep Prancis, menghabiskan waktu 8 hari di Baghdad, walau meluas dalam isi laporannya namun memiliki bahasan penting tentang perpustakaan, yang terkonsentrasi pada National Library & Archives, Perpustakaan Awqāf dan Perpustakaan Masjid Qādirīya. Tentunya sangat berguna sekali karena peneliti Prancis yang juga penulis laporan tersebut, Edouard Méténier, memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mendalam terhadap perpustakaan-perpustakaan di Baghdad.

UNESCO mengirimkan sebuah misi untuk mencari fakta-fakta tentang museum dan perpustakaan pada May 2003, namun ahli perpustakaan mereka Jean-Marie Arnoul dari Bibliothèque Nationale de France ditolak visanya oleh otoritas Amerika. Kemudian, akhirnya, mereka mengendur dan mengizinkan M Arnoult yang kemudian tiba pada 27 Juni dan tinggal di Iraq hingga 6 Juli. Laporannya yang detil dipublikasi bersamaan dengan International Federation of Library Associations (IFLA), didalamnya terdapat informasi yang sangat berguna dan rekomendasi yang sangat detil. Dia mengunjungi empat perpustakaan di Baghdad termasuk juga Asip Nasionalnya, dan berbeda dengan misi laiinya, dia juga mengunjungi ke Perpustakaan Universitas dan Umum di kota Mosul dan Basra.

Kemudian Library of Congress (Amerika) juga mengirimkan misi pada 27 Oktober s/d 3 November 2003 mengunjungi Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan MSS utama di Baghdad. Misi tersebut dibawah kontrol Property Office of the US Department of State Mission to Baghdad, dan membuat beberapa rekomendasi yang cukup detil kepada Kementerian Kebudayaan pada rezim pendudukan berkenaan dengan masa depan institusi yang dikunjungi oleh tim Library of Congress. Beberapa temuan mereka bertentangan dengan misi-misi terdahulu.

Sayangnya tidak ada satupun dari misi-misi di atas terkordinasi satu sama lainnya. Beberapa saling tumpang tindih dan beberapa temuan mereka bahkan saling bertentangan (23).

    6. Keadaan Manuskrip Iran dan Koleksinya setelah Invasi

Mari kita tengok beberapa perpustakaan pribadi serta institusi pemegang manuskrip.

         6.1 Museum Irak

Penjarahan museum, dan laporan serta klaim yang bertentangan tentang penjarahan tersebut, telah banyak diliput oleh media, serta laporan dari ahli museum dan arkeolog (24). Jadi mereka tidak akan mendiskusikannya di sini, kecuali pada catatan dua point yang berhubungan dengan manuskrip.

  1. Banyak dari barang antik yang dicuri bukan hanya benda-benda seni bernilai arkeologis, namun juga material teks – bahkan beberapa diketahui adalah tekst tertulis tertua dalam sejarah manusia. Jadi benda tersebut, walau tertulis di atas tanah liat atau batu bukannya parchment atau kertas tetap merupakan manuskrip.

  2. Dilaporkan bahwa pada beberapa tempat manuskrip-manuskrip Islam telah hilang dari museum. Ini adalaha kesalahfahaman yang muncul akibat kenyataan bawah museum pada umumnya menyimpan koleksi penting seperti MSS, dan katalog yang dipublikasi mengenainya (25). Padahal yang terjadi adalah benda-benda tersebut pada 1988 dipindahkan ke perpustakaan yang terpisah, disebut Perpustakaan MSS Saddam, yang benda-benda di dalamnya selamat dari kehancuran. Penyelidik pencurian museum dari Angkatan Darat Amerika, Kolonel Bogdanos, beberapa kali mengumumkan kesuksesan pada jumpa pers, dan melaporkan bahwa tim-nya telah menemukan MSS, yang mana menurutnya sebelumnya telah dicuri dari museum, dan akan segera dikembalikan. Lanjutanya dia menambahkan dari sekitar 40000 MSS menurut hitungannya benda-benda museum berhasil ditemukan. Bahkan ternyata benda-benda tersebut tadinya bukan berasal dari museum dan telah hilang selama 19 tahun.

      6.2 Perpustakaan dan Arsip Nasional

Perpustakaan Nasional mengalami nasib yang lebih buruk dari museum, meskipun diliput lebih sedikit oleh media. Koleksi perpustakaan menderita sangat parah, berlawanan dengan informasi yang melenceng, namun berlawana dengan beberapa laporan, bervolume-volume manuskrip tidak ikut hancur.

Arsip Nasional terletak pada gedung yang sama dengan Perpustakaan Nasional, dan lebih menderita karena kerusakan oleh api. Menurut laporan Library of Congress, arsip-arsip peninggalan periode Ba'thist menjadi target sasaran dan hampir-hampir rusak keseluruhannya; begitu juga dengan koleksi microfilmnya. Dokumentasi berbahan kertas peninggalan periode yang lebih tua mungkin dapat diselamatkan baik berada di dalam gedung maupun tempat lainnya; namun masih menjadi perdebatan kebenaran bukti bahwa dokumentasi kertas masih selamat atau ikut hancur. Sepertinya lebih dari 30.000 surat-surat penting peninggalan Kekhalifahan Utsmaniyah dipindahkan dari ruang bawah tanah Departemen Pariwisata, namun sayangnya terendam banjir besar beberapa saat kemudian. Dokumen-dokumen teresbut ditemukan namun dengan keadaan yang cukup serius, rusak karena air dan lumut.

Saat ini Perpustakaan dan Arsip Nasional tengah mengalami perbaikan yang luar biasa, reorganisasi dan pengembalian fungsinya, walau dalam situasi keadaan yang sulit, di bawah pimpinan yang dinamik dan visionari, Direktur-Jenderal Dr. Saad Iskandar yang dipilih pada akhir tahun 2003. Namun apa yang pernah hancur tetap tidak bisa dikembalikan kembali.



6.3. Dār Al-Makhtūtāt Al-‘Irāqīya (Pusat Manuskrip Irak)

Seperti yang pernah disinggung koleksi nasional utama dari MSS Irak adalah Dār Al-Makhtūtāt Al-‘Irāqīya (Pusat Manuskrip Irak), sebelumnya dikenal dengan Perpustakaan Manuskrip Saddam (Dār Saddām li-l-makhtūtāt). Sama dengan koleksi museum terdahulu, Dār Al-Makhtūtāt Al-‘Irāqīya memiliki koleksi khusus dan koleksi milik masjid-masjid yang dikumpulkan secara terpusat dan dirawat oleh pemerintahan Saddam sejak 1988. Saat ini total memiliki lebih dari 40.000 MSS, dan salah satu koleksi MSS Islam yang sangat penting di dunia. Untungnya, koleksi tersebut dapat diselamatkan dari tangan-tangan pencuri dan kehancuran berkat kecerdasan dan visi pimpinannya yaitu Usama al-Naqshabandī yang memindahkan seluruh koleksi perpustakaan dan beberapa koleksi dari perpustakaan lainnya ke tempat perlindungan dari serangan bom di Barat Baghdad pada Desember 2002, ketika perang sepertinya sudah tidak dapat dicegah. Beberapa penduduk dilibatkan untuk menjaga koleksi-koleksi tersebut dan bertahan di sana, menyimpannya di dalam kotak-kotak/bagasi dan menjaga kondisi temperatur dan atmosfir agar tetap aman bagi koleksi perpustakaan. Punbegitu, Library of Congress tetap menemukan beberapa kerusakan akibat penanganan yang kurang hati-hati dan serangan serangga. Sangat jelas, kondisi di tempat perlindungan walau sudah diusahakan sestabil mungkin tetap tidak ideal dan penting untuk segera memindahkannya ke lokasi yang lebih layak. Sayangnta gedung utama dari perpustakaan MSS telah dijarah dan sejumlah perlengkapan didalamnya dicuri, hingga koleksi perpustakaan ini terpaksa tetap berada di dalam bungker selama lima tahun, sementara itu divisi-divisi dan rekan-rekannya antara departemen pemerintahan menyediakan lokasi yang seharusnya dan pantas.

Akhirnya dilaporkan pada Maret 2008 bahwa koleksi-koleksi perpustakaan tersebut telah dikembalikan kepada Museum Irak, walaupun sebenarnya diusulkan untuk dikembalikan kepada Perpustakaan Nasional Irak.

      6.4. Perpustakaan Awqaf

Apa yang terjadi pada koleksi kedua terpenting dari Perpustakaan MSS di Irak, adalah sesuatu yang lebih serius. Adalah Perpustakaan Pusat Awqaf, yang mana adalah perpustakaan wakaf, menyimpan lebih dari 6000 koleksi MS dalam Bahasa Arab, Turki dan Persia terdiri dari 7500 teks.

Perpustakaan ini dijarah dan dibakar pada 14 April 2003; jurnalis independent Robert Fisk menulis saat itu bahwa dia melihat api yang keluar dari jendela gedung tersebut menjilat-jilat hingga ketinggian 30 meter.

Kita tahu bahwa kebanyakan isinya pernah dikatalog secara komprehensif oleh ‘Abd Allāh al-Jubūrī yang mana katalognya pernah diterbitkan pada 1973-74 (26). dia juga menulis sejarah perpustakaan yang mana diterbitkan pada 1973 (27). Sejak itu banyak koleksi penting menjadi bagian perpustakaan Awqaf.

Diantaranya adalah volume 43 kaligrafi bermutu tinggi salinan Qur'an dan banyak lagi koleksi langka serta kuno tentang Hadis, geografi serta sejararah. Koleksi tersebut antara lain adalah :

  • Koleksi awal salinan Hadis yang dikomentari oleh Ibnu Qutayba, disalin di Wasit, Irak pada 472 H/1079 M

  • Karya geografi yang sangat penting atas Jazirah Arab oleh Al-Hasan Lughda al-Isfahānī, yang isinya mengenai deskripsi tertua mengenao detail dunia Arab dan tempat-tempat suci dalam Islam.

  • Karya langka lainnya tentang Hadis oleh Abū 'l-Thanā' Mahmūd al-Dimashqī yang disalin pada 767 H/ 1365 M untuk Sultan Barbuq penguasa Mamluk saat itu.

Banyak lagi, tadinya sebelum akhirnya ikut terbakar, teks-teks unik yang beberapa diantaranya berusia ratusan tahun. Namun usia bukanlah satu-satunya yang membuat koleksi di sana penting. Perpustakaan ini juga memiliki banyak teks unik mengenai kejadian penting dalam sejarah. Contohnya, perpustakaan ini memiliki sebuah manskrip yang terdiri dari dua teks penting yang tidak diterbitkan oleh penulis besar abad ke-19 Ahmad Fāris al-Shidyāq, mengenai kritiknya terhadap gospel-gospel dalam Kristen, satunya lagi adalah hubungan antara Islam dan peradaban modern. Untungnya bagian pertama telah di-microfilm-kan juga di fotokopi dan telah diterbitkan di Amman pada 2003. Namun untuk bagian keduanya belum pernah dipelajari secara mendalam, hanya disinggung sepintas lalu oleh ahli sejarah dan biografer. Sekarang mungkin saja telah hilang untuk selamanya.

Terdapat kontradiksi atas kesaksian pada berapa banyak koleksi MSS dan buku-buku langka yang dimiliki oleh perpustakaan yang dapat diselamatkan. Pertamanya disangka bahwa semuanya telah hancur. Namun pada akhir Mei 2003, Nabil al-Tikriti, yang berkunjung ke perpustakaan tersebut diberitakan bahwa banyak koleksi yang berhasil diselamatkan, beberapa berada di Perpustakaan Masjid Qādirīya, dan beberapa lainnya di tempat yang tertutup (rahasia). Namun sayangnya, dari cerita yang dia dengar, koleksi yang dititipak pada Perpustakaan Masjid Qādirīya dikembalikan lagi karena sebuah insiden yang mengakibatkan terbunuhnya salah satu penjaganya terbunuh oleh Orang Amerika. Koleksi tersebut lantas kemudian entah hilang dicuri atau ikut hancur pada serangan yang menyebabkan perpustakaan terbakar. Di sisi yang lain, Laporang Observasi Irak menyatakan bahwa pimpinan Qādirīya menyangkal bahwa koleksi perpustakaan Awqaf pernah dititipkan di sana.

Laporan Arnoult untuk UNESCO memperkirakan bahwa kerugian MSS mencapai 40% dan buku-buku sekitar 90%. Namun pada Juni 2004 Zayn al-Naqshabandī seorang ahli sejarah Irak, arsiparis sekaligus penjual buku, menerbitkan sebuah laporang yang menurutnya telah ditandatangai oleh Pimpinan Perpustakaan yakni by Salāh Karīm Husayn bahwa 1477 koleksi MSS dicuri dan 5000 masih tersisa. Apabila benar, maka kerugian lebih sedikit dari yang ditakutkan sebelumnya. Namun karena angka-angka barusan tidak sesuai dengan perkiraan jumlah total koleksi yang dimiliki perpustakaan, serta laporan ini juga menyebutkan sekitar 60,300 buku dihancurkan oleh api tanpa menjelaskan apakah termasuk yang terbakar adalah manuskrip atau bukan, posisi laporan ini tetap tidak jelas. Kebingungan seperti inilah yang berada diseputar nasib koleksi MSS Irak setelah invasi Amerika pada 2003.

      6.5 Bayt al-Hikma (Rumah Kebijaksanaan)

Bayt al-Hikma (Rumah Kebijaksanaan) semi swasa pendukung pusat penellitian dan seni serta kebudayaan. Benar-benar habis terbakar dan dijarah. Terletak tepat di sebelah kanannya Kementerian Pertahanan di atas situs madrasah abad ke-13. Koleksinya relatif kecil, memiliki sekitar 100 manuskrip. Namun di dalamnya termasuk Al-Qur'an abad ke-9 serta sebuah salinan abad ke-12 Maqāmāt dari al-Harīrī , teks-teks filsafat karya Ibnu Sina, dan manuskrip abad ke-19, al-Alūsī mengenai Baghdad. Seluruh koleksi ini hilang (hancur) – parahnya lagi koleksi-koleksi tadi tidak ada kopi dalam microfilm atau juga mikrofis. Tidak jelas apakah koleksi-koleksi tersebut dicuri atau ikut hancur dalam perang.

      6.6 Akadami ilmu Pengetahuan

Akademi-akademi di Irak juga ikut diserang. Untungnya kebanyakan dari manuskripnya telah dipindahkan ke Pusat Manuskrip Irak, namun dari tiga puluh premis miliknya duapuluhnya hilang. Diperkirakan kebanyakan yang hilang adalah manuskrip berbahasa Syria.

      6.7 Lainnya

Diluar Baghdad, perpustakaan-perpustakaan di Mosul dan Basra juga mengalami kerusakan yang serius, termasuk Perpustakaan Umum dan Universitas. Semuanya memiliki koleksi manuskrip, namun sepertinya sampai saat ini belum ada laporan yang bisa dihandalkan dan spesifik mengenai kerusakannya. Kita hanya dapat khawatir untuk yang terburuk.

Tahun-tahun setelah invasi, terdapat laporan mengenai kerusakan perpustakaan selama peperangan dan gangguang di Nasiriya dan Najaf yang berada di bawah pendudukan. Pada beberapa tempat khusushnya me ngalami pengeboman kota tua pada 2004. Di sana terdapat perpustakaan-perpustakaan manuskrip yang bersejarah namun kita tidak tahu sejauh mana kerusakannya, bila memang ada.

    7. Rekomendasi

Sudah sepantasnya untuk menyimpulkan dengan mempertimbangkan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan seperti ini lagi. Di bawah ini beberapa rekomendasi singkatnya:

  • Kita harus secara terus-menurus mengingatkan pemerintatahan untuk menghormati hukum internasional. Jelas ini artinya untuk tidak melakukan perang ilegal serta terutama invasi, tetapi yang lebih penting adalah untuk mengobservasi keberadaan konvensi internasional pada perlindungan properti kebudayaan. Perusakan atas perpustakaan-perpustakaan adalah kejahatan atas kemanusiaan dan pelanggaran atas, antara lain, Athena Karta (1931), Konvensi Hogue atas Perlindungan Properti Kebudayaan saat Konflik Bersenjata (1954), Venisia Karta (1964) dan Protokol I dan II Konvensi Jenewa tahun 1949. Kegagalan kekuatan pendudukan untuk mecegah kehancuran yang seperti itu untuk terjadi di Irak, adalah bentuk dari pelanggaran konvensi di atas.

  • Kita harus menggandakan usaha untuk mengatalog dan pemeliharaan manuskrip, hingga kita faham manuskrip mana saja yang masih masih bertahan dan mengambil tahap demi tahap untuk melestarikannya.

  • Kita harus mendukung dan mendorong perekaman manuskrip kedalam mikrofilm/mikrofis atau juga dijital, sehingga kerusakan pada sumber aslinya tidak menyebabkan kehilangan yang sama sekali tidak dapat diperbaiki. Namun di saat yang sama kita juga harus menekankan pentingnya pentingnya manuskrip sebagai benda bersejarah yang mana harus tetap dijaga.

  • Kita harus mencoba sekuat mungkin untuk mendapatkan kembali manuskrip-manuskrip curian yang mungkin saja menjadi koleksi pribadi, atau ditawarkan untuk dijual. The Middle East Librarians Association of North America telah mencoba melakukannya dengan mempublisikasikan pada internet contoh halaman yang di dalamnya terdapat cap dan segel perpustakaan milik perpustakaan-perpustakaan di Irak (28). Namun setiap orang yang menangangi manskrip harus tetap waspada

  • Di atas itu semua kita harus menciptkakan atmosfir opini, baik di dalam maupun di luar Dunia Muslim, yang tidak akan mentoleransi pengerusakan atau penghilangan warisan intelektual atas bangsa atau budaya mana saja. Atmosfis seperti ini sudah mulai menjadi hal yang biasa pada benda-benda antik dan benda-benda museum; kita harus meyakinkan bahwa hal tersebut dapat diaplikasikan pada buku dan manuskrip yang mencakup setiap sari dari pengetahuan manusia, pemikiran dan peradaban

Referensi

  • Abram, Stephen, "The really big picture", Access: the Magazine of OLA [Ontario Library Association], 12 i (2005), pp. 13-15.

  • Djaït, Hichem, "Al-Kūfa", Encyclopaedia of Islam, New [2nd] ed., Vol. V, Leiden, 1986, pp. 345-351.

  • Eche, Youssef, Les bibliothe`ques arabes publiques et semi-publiques en Me´sopotamie, en Syrie et en Egypte au Moyen Age. Damascus, 1967.

  • Fuji, Hideo & Oguchi, Kazumi, Lost heritage: antiquities stolen from Iraq's regional museums, fasc. 3, Tokyo, 1996. Available online at http://oi.uchicago.edu/OI/IRAQ/lh3.pdf.

  • Habbi, Joseph, "Manuscrits arabes chrétiens en Iraq", Parole de l'Orient, 22 / 1997 (1998), pp. 361-380.

  • Hunt, L-A., The Mingana and related collections: a survey of illustrated Arabic, Greek, Eastern Christian, Persian and Turkish manuscripts in the Selly Oak Colleges, Birmingham. Birmingham, 1997.

  • Jubūrī, al-, ‘Abd Allāh, Maktabat al-Awqāf al-‘Āmma: tārīkhuhā wa-nawādir makhtūtātihā. Baghdad, 1969.

  • Jubūrī, al-, ‘Abd Allāh, Fihris al-makhtūtāt al-‘Arabīya fī Maktabat al-Awqāf al-‘Āmma fī Baghdād. Baghdad, 1973-74.

  • Knuth, Rebecca, Burning books and leveling libraries: extremist violence and cultural destruction. Westport, 2006.

  • Mackensen, Ruth Stellhorn, Four great libraries of medieval Baghdad. Chicago, 1932.

  • Makdisi, George, Autograph diary of an eleventh-century historian of Baghdad. London, 1956.

  • Milstein, Rachel, Miniature painting in Ottoman Baghdad. Costa Mesa, 1990.

  • Naqshabandī, al-, Usāma Nāsir, "Iraq", World survey of Islamic manuscripts, Vol. 2, London, 1993, pp. 1-50.

  • Niewöhner-Eberhard, Elke, "Einige Quellenwerke zur Geschichte Bagdads in osmanischer Zeit", Die islamische Welt zwischen Mittelalter und Neuzeit: Festschrift für Hans Robert Roemer zum 65. Geburtstag, Beirut & Wiesbaden, 1979, pp. 483-502.

  • Pedersen, Johannes, The Arabic book. Tr. G. French. Ed. R. Hillenbrand. Princeton, 1984.

  • Pinto, Olga, "The libraries of the Arabs during the time of the Abbasides", translated by F. Krenkow, Islamic Culture 3 (1929), pp. 234-239.

  • Qalqashandī, al-, Abū 'l-‘Abbās Ahmad b. ‘Alī, Kitab Subh al-a‘sha´. Cairo, 1331-1338 H. [1913-1919].

  • Riedlmayer, András, "Erasing the past: the destruction of libraries and archives in Bosnia-Herzegovina", Middle East Studies Association Bulletin, 29 i (1995), pp. 7-11.

  • Riedlmayer, András, "Libraries and archives in Kosova: a postwar report", Bosnia Report, N.S.13/14 (1999/2000), pp. 19-21. Also online at: http://www.bosnia.org.uk/bosrep/decfeb00/libraries.cfm.

  • Safadi, Yasin Hamid, Islamic calligraphy. London, 1978.

  • Stchoukine, Ivan, "La peinture à Baghdad sous Sultān Pīr Budāq Qāra-Qoyūnlū", Arts Asiatiques, 25 (1972), pp. 3-18.

End Notes

[1] Djaït in EI² 1986, pp.350-351; Pedersen 1984, pp. 79-82; Safadi 1978, pp. 10-13.

[2] Eche 1967, pp. 100-102.

[3] Makdisi 1956.

[4] Eche 1967, passim.

[5] Pinto 1929.

[6] Mackensen 1932, pp.288-290; Eche 1967, pp. 116-117.

[7] Kitāb al-‘Ibar wa-dīwān al-mubtada', Book III, cited in Eche 1967, p. 199.

[8] Qalqashandī, Subh al-A‘shá, Cairo 1913-22, Vol. I, p. 466.

[9] Footnotes by Krenkow in his translation of Pinto 1929; Mackensen 1932, p. 297.

[10] Main source: Olga Pinto, "The libraries of the Arabs during the time of the Abbasides". Translated by F. Krenkow. Islamic Culture 3 (1929), pp. 234-239.

[11] Stchoukine 1972, passim.

[12] Milstein 1990, passim.

[13] Niewöhner-Eberhard 1979, passim.

[14] Ibid., p. 485.

[15] Habbi 1998.

[16] Hunt [1997].

[17] Jubūrī 1973, I p. 4.

[18] Fuji & Oguchi 1996, p. viii.

[19] Riedlmayer 1995.

[20] Riedlmayer 1999.

[21] Abram 2005, p.14; Knuth 2006, pp. 144-151.

[22] These reports are listed, and in most cases their full texts are provided, on the web-page of the Committee on Iraqi Libraries of the Middle East Librarians Association (MELA) at http://oi.uchicago.edu/OI/IRAQ/mela/melairaq.html This page also provides links to a number of distressing photographic images of destroyed books and library buildings.

[23] The texts of the reports of most of these missions can be found and compared at http://oi.uchicago.edu/OI/IRAQ/mela/melairaq.html (see note 23 above).

[24] For extensive documentation and discussion, see the IraqCrisis web pages of the Oriental Institute in Chicago, at http://oi.uchicago.edu/OI/IRAQ/iraq.html.

[25] Naqshabandī 1993, pp. 19-25.

[26] Jubūrī 1973-74.

[27] Jubūrī 1969.

[28] See: Middle East Librarians Association Committee on Iraqi Libraries Home Page, Iraqi Library Stamps (October 2003).

*Dr Geoffrey Roper is an international bibliographical and library consultant. He was formerly Editor of Index Islamicus and the World Survey of Islamic Manuscripts and is currently an Associate Editor of the forthcoming Oxford Companion to the Book.

by: Dr Geoffrey Roper, Thu 11 September, 2008



onetea wrote on Jun 14, '09
wuih rajinnya pak iman. pak kirim lah ke koran
inimona wrote on Jun 14, '09
doowwwwiiiiii...tapi menyenangkan bacanya :D
natayacr wrote on Jun 14, '09
Subhanallah..barokah mas iman...jadi ingat waktu nonton angel and demon...betapa mau masuk ke perpustakaan aja harus mendapat ijin akses dari petinggi vatikan
abhicom2001 wrote on Jun 15, '09
onetea said
wuih rajinnya pak iman. pak kirim lah ke koran
heheehe cuman terjemahan kok dikirim ke koran mbak :D
abhicom2001 wrote on Jun 15, '09
inimona said
doowwwwiiiiii...tapi menyenangkan bacanya :D
semoga ada manfaatnya...aamiin
abhicom2001 wrote on Jun 15, '09
Subhanallah..barokah mas iman...jadi ingat waktu nonton angel and demon...betapa mau masuk ke perpustakaan aja harus mendapat ijin akses dari petinggi vatikan
alhamdulillah....kenapa ya harus izin dulu apakah ada alasan ttu yang disebutkan dalam film tersebut?
izmiya wrote on Jun 21, '09
alhamdulillah....kenapa ya harus izin dulu apakah ada alasan ttu yang disebutkan dalam film tersebut?
ogitu ya? belum nonton filnya juga, kyknya harus nonton nih :)
divinac wrote on Jun 21, '09
Man, panjang banget, aku bacanya baru sempat scanning nih. Sekilas, keterbacaannya ok tuh. Tapi klo isinya belum bisa komentar
Add a Comment